Tampilkan postingan dengan label Pend. Agama Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pend. Agama Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 November 2016

Memahami Tauhid/Akidah Akhlak

MEMAHAMI TAUHID

A.  Pengertian Tauhid
Tauhid adalah merupakan pengetahuan kesaksian, keyakinan dan keimanan manusia terhadap ke-Esaan Tuhan dengan segala sifat kesempurnaan dan ke-Esaa-Nya, lalu diikuti dengan keyakinan bahwa Dia tidak berpasangan dan tiada sekutu. Dia adalah sempurna tiada tara, penyandang “atribut” ke-Tuhanan dan kekuasaan mutlak atas seluruh makhluk. Berdasarkan Al-Quran ke-Esaan Tuhan itu meliputi tiga hal yaitu : Esa Zat-Nya, artinya bahwa tidak ada Tuhan lebih dari satu dan tidak ada sekutu bagi Allah. Esa sifat-Nya adalah tidak ada Zat lain yang memiliki satu atau lebih sifat-sifat ke Tuhanan yang sempurna (bahwa Allah tidak mempunyai dua sifat kodrat dan dua sifat iradat, dan sebagainya. Esa af’al-Nya yaitu bahwa tak seorangpun dapat melakukan pekerjaan yang dilakukan oleh Allah (tidak ada zat lain yang mempunyai wibawa selain Dia).
Iman kepada wujud Allah adalah suatu keniscayaan. Sekalipun demikian wujud Allah swt merupakan wujud yang badhiyah, wujud Allah merupakan kebenaran yang perlu dalil pembuktian, tetapi karena sudah sangat umum dan mendarah daging maka kebenaran itu tidak lagi perlu pembuktian atau dalil. Menurut akidah islam, konsepsi tentang ketuhanan Yang Maha Esa disebut tauhid, sedangkan ilmu yang membahas disebut ilmu tauhid. Ilmu tauhid adalah ilmu yang membahas tentang Kemaha Esa-an Tuhan. Menurut Osman Raliby ajaran islam tentang ke-Maha Esa-an Tuhan adalah sebagai berikut :
Allah Maha Esa dalam Zat-Nya, ke-Maha Esa-an Allah dalam Zat-Nya dapat dirumuskan dengan kata-kata bahwa zat Allah tidak sama dan tidak dapat dibandingkan dengan apapun juga. Dia unique (unik:lain dari semuanya), berbeda dalam segala-galanya. Zat Tuhan yang unik atau Yang Maha Esa itu bukanlah materi yang terdiri dari beberapa unsur bersusun. Ia tidak dapat disamakan atau dibandingkan dengan benda apapun yang kita kenal, yang menurut ilmu fisika terjadi dari susunan atom, molekul dan unsur-unsur berbentuk yang takluk pada ruang dan waktu yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia, yang dapat hancur musnah dalam satu masa. Keyakinan kepada Zat Yang Maha Esa, akan mempunyai konsekuensi. Konsekuensinya adalah bagi umat islam yang memiliki akidah demikian, setiap atau segala sesuatu yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia mempunyai bentuk tertentu, tunduk pada ruang dan waktu, hidup memerlukan makanan dan minuman seperti manusia biasa, mengalami sakit dan mati, lenyap dan musnah, bagi orang muslim bukanlah Allah, Tuhan Yang Maha Esa.
Allah Maha Esa dalam sifat-sifatNya, Kemaha Esa-an Allah dalam sifat-sifatNya ini mempunyai arti bahwa sifat-sifat Allah penuh kesempurnaan dan keutamaan, tidak ada yang menyamainya. Sifat-sifat Allah itu banyak dan tidak dapat diperkirakan, dari Al-Quran dapat diketahui 99 nama sifat Tuhan yang biasanya disebut dengan Al-Asma’ul Husna; 99 nama-nama Allah yang indah. Didalam ilmu tauhid dijelaskan 20 sifat Tuhan yang disebut dengan sifat dua puluh, yaitu (1) Ada, (2) Azal, tidak ada permulaan-Nya, (3) Kekal, abadi tidak berkesudahan, (4) Berbeda dengan segala ciptaan-Nya (yang baru), (5) Berdiri sendiri, (6) Maha Esa, (7) Berkuasa, Maha Kuasa, (8) Berkehendak, (9) Maha Mengetahui, (10) Hidup, (11) Maha Mendengar, (12) Maha Melihat, (13) Maha Berkata-kata, (14) Keadaan Berkuasa, (15) Dalam keadaan berkemauan, (16) Dalam keadaan berpengetahuan, (17) dalam keadaan hidup, (18) dalam keadaan mendengar, (19) dalam keadaan melihat, dan (20) dalam keadaan berkata-kata.
Allah Maha Esa dalam perbuatan-perbuatanNya. Pernyataan ini mengandung arti bahwa kita meyakini Tuhan Yang Maha Esa tiada tara dalam melakukan sesuatu, sehingga hanya Dia-Lah yang dapat berbuat menciptakan alam semesta ini, perbuatan-Nya itu unik, lain dari yang lain, tiada taranya dan tidak sanggup pula menirunya. Konsekuensi keyakinan bahwa Allah Maha Esa dalam perbuatanNya adalah seorang muslim tidak boleh mengagumi perbuatan-perbuatan manusia lain dan karyanya sendiri secara berlebih-lebihan. Manusia, baik sebagai perseorangan maupun sebagai kolektivitas, betapapun genial (hebat/luar biasanya), tidak boleh dijadikan objek pemujaan apalagi kalau disembah.
Allah Maha Esa dalam wujudnya, ini berarti bahwa Allah lain sama sekali dari wujud alam semesta. Ia tidak dapat disamakan dan dirupakan dalam bentuk apapun juga. Oleh karena itu Anthromorfisme (paham pengenaan ciri-ciri manusia pada alam atau Tuhan) tidak ada dalam ajaran islam. Menurut keyakinan islam, Allah Maha Esa. Demikian Esa-Nya sehingga wujud-Nya tidak dapat disamakan dengan alam atau bagian-bagian alam yang merupakan ciptaan-Nya ini. Eksistensi-Nya wajib, karena itu ia disebut wajibul wujud. Pernyataan ini merupakan makna bahwa hanya Allah lah yang abadi dan wajib eksistensi atau wujud-Nya. Selain dari Dia, semuanya mukminul wujud. Artinya boleh (mungkin) ada, boleh (mungkin) tiada seperti eksistensi manusia dan seluruh alam semesta ini yang pada waktnya pasti akan mati atau hancur binasa. Koneskuensi keyakinan yang demikian adalah setiap manusia muslim sebagai bagian alam, harus selalu sadar bahwa hidupnya hanyalah sementara didunia ini, tempat ia diuji mengenai kepatuhan dan ketidak patuhannya pada perintah-perintah dan larangan Allah yang antara lain tercantum dalam syariat-Nya.
Allah Maha Esa dalam menerima ibadah, ini berarti bahwa hanya Allah sajalah yang berhak disembah dan menerima ibadah. Hanya Dialah yang satu-satunya yang patuh dan harus disembah serta hanya kepada-Nya pula kita meminta pertolongan. Yang dimaksud dengan ibadah adalah segala perbuatan manusia yang disukai Allah, baik dalam kata-kata terucap maupun dalam bentuk perbuatan-perbuatan lain yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. Konsekuensi keyakinan ini adalah hanya Dialah Allah yang wajib kita sembah, hanya kepada-Nya pula seluruh shalat dan ibadah yang kita lakukan, kita niatkan dan kita persembahkan.
Allah Maha Esa dalam menerima hajat dan hasrat manusia, artinya bila seseorang manusia hendak menyampaikan maksud, permohonan atau keinginannya langsunglah sampaikan kepada-Nya, kepada Allah sendiri. Yakinlah bahwa Allah sangat dekat pada hamba-hambanya yang mau bertaqwa. Tuhan yang mengabulkan doa-doa para hambanya. Konesekuensi keyakinan ini adalah setiap muslim dibuka selebar-lebarnya untuk menyampaikan hajat dan hasrat hanya kepada Allah.
Allah Maha Esa dalam memberi hukum, ini berarti bahwa Allah lah satu-satunya pemberi hukum yang tertinggi. Ia memberi hukum kepada alam yang selama ini kita kenal dengan sebutan hukum-hukum Archimedes, Boyle, Lavoisier, Hukum Relativitas, Thermodinamic dan sebagainya. Ia pula yang memberi hukum kepada umat manusia bagaimana mereka harus hidup dibumi-Nya ini sesuai dengan ajaran-ajaran dan kehendak-Nya yang dengan sendirinya sesuai dengan hukum-hukum (yang berlaku) dialam semesta dan watak manusia yang semuanya itu adalah ciptaan Allah. Konsekuensi keyakinan ini adalah seorang muslim wajib percaya pada adanya hukum-hukum alam (sunatullah) baik alam fisik maupun alam psikis dan spiritual yang terdapat dalam kehidupan, baik kehidupan individual maupun kehidupan sosial.

B.  Ilmu Kalam
Secara etimologis (bahasa), kalam berarti pembicaraan, yakni pembicaraan yang bernalar dengan menggunakan logika. Oleh karena itu ciri utama dari ilmu kalam adalah rasionalitas atau logika. Kata kalam sendiri mulanya memang dimaksudkan sebagai terjemah dari logos diadopsi dari bahasa Yunani yan berarti pembicaraan. Dari kata inilah muncul istilah logika dan logis, yang diterjemahkan dalam bahasa Arab dengan istilah manthiq sehingga menjadi ilmu logika, khususnya logika formal (silogisme), dinamakan manthiq. Karena diadopsi dari bahasa Yunani itulahm maka bahan-bahan yunani sangat diperlukan. (Nurchalis Majid,1992,231). Menurut Muhammad Abduh ilmu kalam membicarakan tentang wujud Allah swt (sifat-sifat yang wajib dan mesti ada pada-Nya dan sifat-sifat yang mustahil atau tidak mungkin ada padaNya) dan juga membicarakan tentang Rosul-rosul Allah yang telah ditetapkannya serta sifat-sifat yang mesti ada padanya dan sifat-sifat yang tidak mungkin ada padanya (Mustadjib dkk,1998,3).
Menurut Ibnu Khaldum mengatakan “Ilmu kalam adalah ilmu yang berisi alasan-alasan mempertahankan kepercayaan-kepercayaan iman dengan menggunakan dalil-dalil pikiran dan berisi bantahan terhadap orang-orang yang menyelewengkan dari kepercayaan-kepercayaan aliran golongan salaf dan ahli sunnah”.
Ilmu kalam lebih cenderung menitikberatkan pembahasannya kepada aspek-aspek tentang Tuhan dengan segala aspeknya. Kemudian hasil pemahaman, pendalaman, penafsiran serta perincian tentang akidah, karena  merupakan hasil pemikiran atau ijtihad manusia mempunyai kecenderungan berbeda-beda, menyebabkan timbulya aliran-aliran dan mazhab dalam islam. Para tokoh ilmu kalam disebut Mutakallimun yaitu ahli debat yang pintar menggunakan kata-kata.
Ilmu kalam juga sering disebut dengan istilah teologi yaitu ilmu yang membicarakan tentang Tuhan atau disebut ilmu ketuhanan. Namun berbeda dengan teologi dalam ajaran agama kristen, teologi islam bersifat hitegratif artinya bahwa teologi islam memandang hakekat Tuhan hanyalah Tunggal, satu dan tidak mempunyai sekutu yang lainnya, sehingga dilihat dari sudut Tuhan, semua ciptaan yang beraneka ragam dunia ini, alam semesta seisinya yang menciptakan hanya Tuhan yang satu. Dari beberapa istilah yang digunakan seperti aqidah, tauhid, ilmu kalam dan teologi terdapat persamaan yaitu dalam objek yang menjadi pembicaraan atau pembahasan yaitu sama-sama membicarakan tentang Allah, Tuhan yang Maha Esa. Segala sesuatu tentang Tuhan disebut dengan Ketuhanan.
Kata Illah mempunyai pengertian yang sangat luas, mencakup pengertian Rububiyah dan Mulkiyah. Karena memiliki orientasi dan kandungan makna yang dalam maka Allah menetapkan kalimat thayyibah yaitu “La ilaaha illaallah”. Pernyataan [ikrar] kalimat thayyibah ini bersifat komprehensif yang mencakup pengertian berikut :
a)        La Khaliqa Illallah (Tidak ada yang Maha Mencipta kecuali Allah)
b)        La Raziqa Illallah (Tidak ada yang Maha Memberi rizqi kecuali Allah)
c)        La Hafiza Illallah (Tidak ada yang Maha Memelihara kecuali Allah)
d)       La Mudabbira Illallah (Tidak ada yang Maha Mengelola kecuali Allah)
e)        La Malika Illallah (Tidak ada yang Maha Memiliki Kerajaan kecuali Allah)
f)         La Waliya Illallah (Tidak ada yang Maha Memimpin kecuali Allah)
g)        La Hakima Illallah (Tidak ada yang Maha Menentukan Aturan kecuali Allah)
h)        La Ghayata Illallah (Tidak ada yang Maha Menjadi Tujuan kecuali Allah)
i)          La Ma’buda Illallah (Tidak ada yang Maha Disembah kecuali Allah)

Dengan demikian dapat dipahami bahwa mengikrarkan kalimat tauhid (Laa ilaaha illaallah) dapat menyadarkan manusia akan dirinya dan segala yang dimiliki adalah kepunyaan Allah swt. Ia dengan sepenuh hati menerima Allah sebagai penguasa tunggal dalam kehidupan, sebagai sumber haqiqi kebenaran yang memiliki kehendak dan kekuasaan seluruh alam.
Menurut Mutakalimin bahwa Tauhid dibagi menjadi beberapa macam, diantaranya sebagai berikut :
a)   Tauhid Al Rububiyah adalah berasal dari salah satu nama Allah Al Rabb, yang memiliki beberapa makna pemeliharaan, pengasuh, penolong, penguasa, pendamai dan pelindung. Secara syar’i tauhid bermakna iman kepada Allah SWT sebagai pencipta, penguasa, dan pengatur segala urusan yang ada di alam semesta, menghidupkan dan mematikan dan hal-hal yang termasuk perkara taqdir dan menetapkan hukum alam (sunatullah). Allah SWT berfirman dalam Qs. Al-A’raaf : 54
 إِنَ رَبُكُمُ اللُّٰهُ الَّذِى خَلَقَ السَّمَوَٰتِ وَالْأَرْضَ فِى سِتَةِ أَيَّــامٍ ثُـمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِى الَّيلَ النَّهَارَيَطْلُبُهُ،حَثِيثًاوَالشَّمْسَ وَالقَمَرَوَالنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتٍ بِأَمْرِهِ ۗأَلَالَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗتَبَارَكَ اللّهُ رَبُّ الْعَٰلَمِينَ۝ 
Artinya : “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah SWT yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Lalu Dia menguasai diatas arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat dan (diciptakan-Nya pul) matahari, bulan dan bintang yang semuanya tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah. Tuhan semesta alam.” (Qs. Al-A’raaf : 54)

b)   Tauhid Al Asma wa’al Sifat adalah penetapan dan pengakuan yang kokoh atas nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT yang luhur berdasarkan petunjuk Allah SWT dalam Al-Quran dan petunjuk Rasulullah dalam sunahnya. Firman Allah :
 ....لَيْسَ كَمِثْلِهِ،شَىْءٌ ۖوَهُوَالسَّمِيِعُ الْبَصِيرُ۝
Artinya : “Tiada yang menyerupai-Nya segala sesuatu, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Qs.As-Syura:11)

Imam Tirmidzi meriwayatkan ke-99 nama itu sebagai berikut :
 عَنْ أَبِي هُرَيرَةَقَلَ قَلَرَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِلّٰهِ تَعَالَى تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسمًامِائَةٌغَيْرَوَاحِدٍمَنْ أَحْصَاهَادَخَلَ الـجَنَّةَهُوَاللّٰهُ الَّذِي لاَإِلاَّهُوَالرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلاَمُ الْمُؤْمِنُ الـمُهَيْمِنُ الـعَزِيْـزُالْجَبَّارُالـمُتَكَبَّرُالْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوَّرُالغَفَّارُالقَهَّارُالوَهَّابُالرَّزَّاقُ الفَتَّاحُ العَلِيمُ القَابِضُ البَاسِطُ الخَافِضُ الرَّافِعُ المُعَزُّالمُذِلُّ السَّمِيعُ البَصِيرُالحَكَمُ العَدْلُ اللَّطِيفُ الخَبِيرُالحَلِيمُ العَظِيمُ الغَفُورُالشَّكُرُالعَلِيُّ الكَبِيْرُالحَفِيظُ المُقِيتُ الحَسِيبُ الجَلِيْلُ الكَرِيمُ الرَّقِيبُ المُجِيبُ الوَاسِعُ الحَكِيمُ الوَدُودُالمَجِيدُالبَاعِثُ الشَهِيدُالـحَقُّ الوَكِيلُ القَوِيُّ المَتِينُ الحَمِيدُالمُحْصِي المُبْدِئُ المُعِيدُالمُحْيٖي المُمْيتُ الحَيُّ القَيُّومُ الواجِدُالمَاجِدُالوَحِدُالصَّمَدُالقَادِرُالمُكْتَدِرُالمُقَدِّمُ المُؤَخِّرُالأَوَّلُ الآخِرُالظَاهِرُالبَاطِنُ الوَالِيُ المُتَعَالِي البَرُّالتَوَّابُ المُنْتَقِمُ العَقُوُّالرَءُوفُ مَالِكُ المُلكِذُوالجَلاَلِ وَالْإِكْرَامِ المُقْسِطُ الجَامِعُ الغَنِيُّ المُغْنِي المَانِعُ الضَّارُّالنَّافِعُ النُّورُالهَادِي البَدِيعُ البَاقِي الوَارِثُ الرَّشِيدُالصَّبُورُ (رواه الترمذى:٣٤٢٩)

Artinya : “Dari Abi Hurairah ra. Berkata, bersabda Rasulallah saw: Sesungguhnya Allah memiliki 99 Nama, seratus kurang satu. Barang siapa yang menghapalnya maka ia akan masuk surga. Dialah Allah Yang Tiada Tuhan Selain Dia. Yang Maha Pengasih, Maha penyayang, sang raja diraja, maha suci, maha memberi rasa aman, maha membenarkan janji, maha menguasai, maha mulia, maha perkasa, maha memiliki keagungan, maha mencipta, maha membuat, maha pembentuk, maha pengampun, maha pemaksa, maha pemberi, maha menganugerahi rezeki, maha pembuka (penakluk), maha mengetahui, maha pencabut, maha meluaskan, maha menjatuhkan, maha mengangkat, maha memuliakan, maha menghinakan, maha mendengar, maha melihat, maha menetapkan hukum, maha adil, maha halus (lembut), maha waspada, maha penyantun, maha agung, maha pengampun, maha pembalas, maha tinggi, maha besar, maha memelihara, maha memberi kecukupan, maha menjamin, maha luhur, maha pemurah, maga meneliti, maha mengabulkan, maha luas, maha bijaksana, maha mencinta, maha mulia, maha membangkitkan, maha menyaksikan, maha benar, maha memelihara, maha perwakilan, maha kuat, maha kokoh, maha melingungi, maha terpuji, maha menghitung, maha memulai, maha mengulangi, maha menghidupkan, maha mematikan, maha hidup, maha berdiri sendiri, maha kaya, maha mulia, maha esa, maha tempat bergantung, maha kuasa, maha menentukan, maha mendahului, maha mengakhirkan, maha awal, maha akhir, maha nyata, maha tersembunyi, maha menguasai, maha suci, maha dermawan, maha penerima taubat, maha menyiksa, maha pengasih, maha menguasai kerajaan, maha memiliki kebesaran dan kemuliaan, maha mengadili, maha mengumpulkan, maha kaya, maha pemberi kekayaan, maha mencegah, maha memberi kemadharatan, maha pemberi manfaat, maha bercahaya, maha petunjuk, maha pencipta yang baru, maha kekal, maha pewaris, maha lurus dan maha penyabar.
(HR. Tirmidzi : 3429)

c)      Tauhid Uluhiyah
Uluhiyah berasal dari kata al-ilah yang artinya sesuatu yang disembah (sesembahan) dan sesuatu yang ditaati secara mutlak. Kata ilah ini diperuntukkan bagi sebutan sesembahan yang benar (haq). Tauhid uluhiyyah adalah meyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah SWT, firman Allah SWT :
 وَإِلَٰهُكُمْ إِلَـٰهٌ ۖلَّآإِلَـٰهَ إِلَّا هُوَالرَّحْمَـٰنُ الرَّحِيْمُ۝
Artinya : “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”. (Qs.Al-Baqarah : 163)

Tauhid Uluhiyyah tidak akan te­­rwujud kecuali dengan dua dasar sebagai berikut :
1)      Menjalankan semua macam ibadah hanya kepada Allah SWT, bukan kepada yang lain
2)      Ibadah yang dijalankan harus sesuai dengan perintah dan larangan Allah SWT

d)     Tauhid Mulkiyah
Secara bahasa kata mulkiyah berasal dari akar kata mulk, yang dengannya terbentuk pula kata malik. Tauhid mulkiyah berarti sebuah pandangan yang meyakini bahwa Allah sebagai satu-satunya zat yang menguasai alam semesta ini, dengan hak penuh penetapan peraturan atas kehidupan. Tidak ada sekutu atas kekuasaan Allah di alam semesta ini.
Melalui sifat mulkiyah-Nya, maka Allah berhak menetukan apa saja untuk makhluk-Nya. Sebagai pemilik segala yang ada, maka Allah adalah raja atau penguasa. Allah menjelaskan sifat-Nya sebagai pemimpin (Al-Wali) absolut alam semesta. Allah juga menunjukkan bahwa diri-Nya adalah pelindung orang-orang beriman yang akan membawa mereka menuju pencerahan. Allah berfirman sebagai berikut :
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَءَامَنُواْيُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمَـٰتِ إِلَى النُّورِ ۗ
Artinya : “Allah adalah pelindung bagi orang yang beriman. Dia mengelurakan mereka dari kegelapan (Kekafiran) kepada cahaya (iman)”. (Qs.Al-Baqarah/2:257)

Tauhid Mulkiyah menegaskan bahwa loyalitas, afiliasi, kerelaan, pembelaan, dukungan dan pengorbanan, tidak boleh diberikan kecuali pemimpin atau undang-undang yang bersumberkan dari syariat Allah, atau undang-undang yang sejalan dengan syariat Allah. Karena dengan penegakkan syariat Allah dimuka bumi maka akan menjamin kemaslahatan dan kemakmuran kehidupan dimuka bumi.

e)      Tauhid Rahmaniah
Secara bahasa Rahmaniah berasal dari kata Rahman atau Rahmat yang memiliki arti kasih sayang, yaitu suatu nilai yang paling mendasar sekaligus merupakan kebutuhan paling asasi bagi manusia dalam kehidupannya. Rahmat dalam perwujudannya yang lebih suci dan lebih tinggi adalah suatu sifat yang ditonjolkan oleh Allah SWT dalam memperkenalkan dirinya sebagaimana kita menemukannya pada awal tiap surat yang kita baca dalam Al-Quran yang intinya bahwa kasih sayang (rahmat) Allah sangatlah luas dan meliputi alam semesta.
Tauhid Rahmaniyah menghendaki supaya nilai dasar kasih sayang dikembangkan dalam tata hubungan dan pergaulan dalam kehidupan kita selaku penghayatan dari iman itu sendiri. Pengembangan hubungan baik yang dilandasi rasa kasih sayang dalam lingkungan keluarga dikenal dalam ajaran islam dengan silaturrahim. Dalam hubungan ini dijelaskan oleh sabda rasul :
 عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهَازَوجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَلَ الرَّحِمُ شِجْنَةٌ فَمَنْ وَصَلَهَاوَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَهَاقَطَعْتُهُ(رواه البخارى:٥٥٣٠)
Artinya : “Dari Urwah dari Aisyah istri Rasulallah saw dari Nabi saw bersabda : silaturrahim itu adalah ikatan maka barang siapa menyambungnya maka aku (rasul) akan menyambungnya dan barang siapa yang memutuskannya maka aku akan memutuskannya” (HR.Bukhari No. 5530)

C.  Sosok Teladan Ber-Tauhid
Nabi Ibrahim as adalah seorang yang berperilaku tauhid yang pantas untuk menjadi teladan. Semasa remajanya Nabi Ibrahim as sering disuruh ayahnya keliling kota menjajakan patung-patung buatannya. Namun karena iman dan tauhid yang telah diilhamkan oleh Tuhan kepadanya ia tidak bersemangat untuk menjajakan barang-barang itu, bahkan secara mengejek ia menawarkan patung-patung ayahnya kepada kepada calon pembeli dengan kata-kata : “Patunt, Pating, Patung, siapakah yang akan mau membeli patung-patung yang tidak ada gunanya ini?”
Tauhid merupakan suatu jalinan spiritual seorang hamba dengan sang khaliq dimana saja dan kapan saja. Dengan tauhid seseorang hamba akan merasa dekat dengan Allah, seakan-akan Allah berada di sisinya. Ia akan disayangi Allah, ia yakin bahwa selain Allah adalah kecil sehingga menimbulkan perasaan merdeka dari cengkraman hawa nafsu, menimbulkan jiwa pemberani demi kebenaran, memiliki komitmen tinggi terhadap kebenaran dan keadilan, memiliki ketenangan jiwa, kepribadian matang, bersikap adil dan lain-lain.

Senin, 31 Oktober 2016

Syirik Dalam Islam/Akidah Akhlak

SYIRIK DALAM ISLAM

A.  Pengertian Syirik
Syirik dari segi bahasa artinya mempersekutukan, secara istilah adalah perbuatan yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain. Orang yang melakukan perbuatan syirik disebut musyrik. Seorang musyrik melakukan suatu perbuatan terhadap makhluk manusia, benda yang seharusnya perbuatan itu hanya ditujukan kepada Allah SWT. Perbuatan itu adalah menuhankan sesuatu selain Allah dengan menyembahnya, meminta pertolongan kepadanya, menaatinya atau melakukan perbuatan lain yang tidak boleh dilakukan kecuali hanya kepada Allah SWT. Perbuatan syirik termasuk dosa besar. Allah mengampuni semua dosa yang dilakukan hambanya, kecuali dosa syirik. Firman Allah :
­­­­إِنَّ اللّٰهَ لَايَغْفِرُأَن يُشْرَكَ بِهِ،وَيَغْفِرُمَادُونَ ذَٰلِكَ لَمَن يَشَآءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرَىٰٓ إِثْـمًاعَضِيـمًا۝
Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa besar” (Qs.An-Nissa:48)

Dilihat dari sifat dan tingkat sanksinya, syirik dibagi menjadi dua yaitu :
1)        Syirik Akbar (Syirik Besar)
Syirik akbar merupakan syirik yang tidak akan mendapat ampunan Allah. Pelakunya tidak akan masuk surga untuk selama-lamanya. Syirik akbar ini ada dua macam pula, yaitu Dzahirun jali (tampak nyata) dan Bathinun Khafi (tersembunyi).
a)    Dzahirun jali (tampak nyata) yaitu penyembahan kepada tuhan-tuhan selain Allah atau baik tuhan yang berbentuk berhala, bintang, bulan, matahari, batu, gunung, pohon besar, sapi, ular, manusia dan sebagainya. Demikian pula menyembah makhluk-makhluk ghaib, seperti setan, jin dan malaikat. Termasuk juga dalam syirik dzahirun jali ini mengakui Nabi Isa sebagai Tuhan Anak atau Putra Tuhan.
b)    Bathinun Khafi (tersembunyi) antara lain meminta pertolongan kepada orang yang telah meninggal, patuh kepada undang-undang atau hukum yang bertentangan dengan hukum Allah.

Setiap orang yang menaati makhluk lain serta mengikuti selain dari apa yang telah disyariatkan oleh Allah dan rasul-Nya, berarti telah terjerumus kedalam lembah kemusyrikan. Firman Allah SWT :
­­­­وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُـمْ لَمُشْرِكُونَ۝
Artinya : “...dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik” (Qs.Al-An’am:121)

Didalam Qs.Al-Furqon ayat 55 disebutkan pula :
وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّٰهِ مَالَايَـنْـفَعُهُـمْ وَلَايَضُرُّهُـمْ ۗ وَكَانَ الْـكَافِرُعَلَىٰ رَبِّـهِ،ظَهِيْرًا
Artinya : “Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak memberi manfaat kepada mereka dan tidak (pula) memberi mudharat kepada mereka. Adalah orang-orang kafir itu penolong (syaitan untuk berbuat durhaka) terhadap Tuhannya

2)        Syirik Asghar (Syirik Kecil)
Syirik asghar termasuk perbuatan dosa besar, akan tetapi masih ada peluang diampuni Allah jika pelakunya segera bertobat. Seorang pelaku syirik asghar dikhawatirkan akan meninggal dunia dalam keadaan kufur jika ia tidak segera bertobat. Contoh-contoh perbuatan syirik asghar antara lain ;
1.       Bersumpah dengan nama selain Allah
Sabda Rasulullah SAW : وَمَنْ حَلَفَ بِغَيْرِاللّٰهِ فَقَدْكَفَرَاوْاَشْرَكَ
Artinya : “Dan barangsiapa yang bersumpah dengan selain nama Allah, maka dia telah kufur atau syirik” (HR. Tirmidzi)

Dalam hadist lain disebutkan yang artinya sebagai berikut : “Barangsiapa bersumpah dengan Lata dan Uzza, maka hendaklah dia menyebut “Laa ilaaha illallaah”. (HR.Bukhari)

Hadist diatas menjelaskan bahwa kaffarah (sesuatu yang dibayarkan karena melanggar sumpah) dari perbuatan syirik adalah memperbaharui tauhid bukan memberi makan fakir miskin atau berpuasa.

2.       Memakai zimat
Memakai zimat termasuk perbuatan syirik karena mengandung unsur meminta atau mengharapkan sesuatu kepada kekuatan lain selain Allah.
Sabda Rasulullah saw : مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْاَشْرَكَ
Artinya : “Barangsiapa menggantungkan azimat, maka dia telah berbuat syirik” (HR.Ahmad)

3.       Mantera
Mantera yaitu mengucapkan kata-kata atau gumam-gumam yang dilakukan oleh orang jahiliyah dengan keyakinan bahwa kata-kata atau gumam-gumam itu dapat menolak kejahatan atau bala dengan bantuan jin.
Sabda Rasulullah saw : اِنَّ الرُّقْـىَ وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ
4.       Sihir
Sihir termasuk perbuatan syirik karena perbuatan tersebut dapat menipu atau mengelabui orang dengan bantuan jin atau setan. Dalam sebuah hadist disebutkan:
مَنْ عَقَدَ عُقْدَةً ثُـمَّ نَفَثَ فِيْـهَافَقَدْسَـحَرَ. وَمَنْ سَـحَرَفَقَدْأَشْرَكَ
Artinya : “Barangsiapa yang membuat suatu simpul kemudian dia meniupnya maka sungguh ia telah menyihir. Barangsiapa menyihir sungguh ia telah berbuat syirik” (HR.Nasa’i)

5.       Peramalan
Yang dimaksud dengan peramalan ialah menentukan dan memberitahukan tentang hal-hal yang ghaib pada masa-masa yang akan datang baik itu dilakukannya dengan ilmu perbintangan, dengan membaca garis-garis tangan, dengan bantuan jin dan sebagainya.
مَنِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنُ النُّجُوْمِ فَقَدِاقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ
Artinya : “Barangsiapa yang mempelajari salah satu ilmu perbintangan, maka dia telah mempelajari sihir” (HR.Daud)

Yang dimaksud dengan ilmu perbintangan dalam hadist ini bukanlah ilmu perbintangan yang mempelajari tentang planet yang dalam ilmu pengetahuan disebut astronomi.

6.       Dukun atau tenung
Dukun ialah orang yang dapat memberitahukan tentang hal-hal yang ghaib pada masa datang atau memberitahukan apa yang tersirat dalam naluri manusia. Adapun tukang tenung adalah nama lain dari peramal atau dukun atau orang-orang yang mengaku bahwa dirinya dapat mengetahui dan melakukan hal-hal yang ghaib baik dengan bantuan jin, atau setan ataupun dengan membaca garis tangan. Didalam sebuah hadist diterangkan :
عَنْ وَائِلَةَ بْنِ الْاَسْقَعِ رَضِىَ اللّٰهُ عَنْهُ قَلَ : سَـمِعْتُ رَسُوْلَ اللّٰهِ صلى اللّٰه عليه وسَلَّمَ يَقُوْلُ مَنْ اَتَـىَ كَاهِنًافَسَأَلَهُ عَن شَيـْئٍ حَجَبَتْ عَنْهُ التَّوْبَةُ اَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً فَاِنْ صَدَّقَهُ بـمـاَقَالَ كَفَرَ
Artinya : “Dari Wailah bin asqa;i ra berkata: aku mendengar Rasulullah saw bersabda “Barang siapa datang kepada tukang tenung lalu menanyakan tentang sesuatu maka terhalanglah tobatnya selama empat puluh hari. Dan bila dia mempercayai perkataan tukang tenung itu maka kafirlah ia” (HR.Thabrani)

7.       Bernazar kepada selain Allah
Dalam masyarakat masih dijumpai seseorang bernadzar kepada selain Allah. Misal seseorang bernadzar “jika saya sembuh dari penyakit, saya akan mengadakan sesajian ke makam wali” perbuatan seperti itu adalah perbuatan yang sesat. Firman Allah SWT :
وَمَآ أَنـفَقْتُـمْ مِّن نَّـفَقَةٍ أَوْنَذَرْتُـمْ مِّن نَّـذْرٍفَإِنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُهُ وَمَالِلظَّالِمِيْنَ مِنْ أَنصَارٍ
Artinya : “Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nadzarkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang-orang yang berbuat zalim tidak ada seorang penolongpun baginya” (Qs.Al-Baqarah:270)

8.       Riya’
Riya’ adalah beramal bukan karena Allah, melainkan karena ingin dipuji atau dilihat orang. Riya’ termasuk syirik, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
اَخْوَفُ مَااخَافُ عَلَيْكُـمُ الشِّرْكُ الْاَصْغَرُفَسُئِلَ عَنْهُ فَقَالَ الرِّيَاءُ
Artinya : “Sesuatu yang amat aku takuti yang akan menimpa kamu ialah syirik kecil. Nabi ditanya tentang hal ini, maka beliau menjawab : “ialah Riya”. (HR.Ahmad)

B.  Macam-Macam Syirik
Menurut klasifikasi umum, syirik dibagi menjadi empat jenis yaitu :
1.    Syirku Al-‘Ilmi : inilah syirik yang umumnya terjadi pada ilmuan. Mereka mengagungkan ilmu sebagai maha segalanya. Mereka tidak mempercayai pengetahuan yang diwahyukan Allah. Sebagai contoh mereka mengatakan bahwa manusia berasal dari kera, mereka juga percaya bahwa ilmu pengetahuan akhirnya akan dapat menemukan formula agar manusia tidak perlu mengalami mati dan lain-lain.
2.  Syirku At-Tasarruf : syirik jenis ini pada prinsipnya disadari atau tidak oleh pelakunya, menentang bahwa Allah Maha Kuasa dan segala kendali atas penghidupan manusia berada ditangan-Nya. Mereka percaya adanya ‘perantara’ itu mempunyai kekuasaan. Contohnya adalah kepercayaan bahwa Nabi Isa anak Tuhan, percaya pada dukun, tukang sihir atau sejenisnya.
3.     Syirku Al-ibadah : inilah syirik yang menuhankan pikiran, ide-ide atau fantasi. Mereka hanya percaya pada fakta-fakta kongkrit yang berasal dari pengalaman lahiriah. Misal seorang atheis memuja ide pengingkaran terhadap Tuhan dalam berbagai bentuk kegiatan.
4.     Syirku Al-‘addah : ini adalah kepercayaan terhadap tahayul. Sebagai contoh percaya bahwa angka 13 itu adalah angka sial sehingga tidak mau menggunakan angka tersebut, menghubungkan kucing hitam dengan kejahatan dan lain sebagainya.

C.  Akibat Negatif Perbuatan Syirik
1.    Sulit menerima kebenaran, firman Allah ; “Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah ditutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat” (Qs.Al-Baqarah/2:7).
2.      Munculnya perasaan bimbang dan ragu, firman Allah ; “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu dan mereka mendapat azab yang pedih karena mereka berdusta” (Qs.Al-Baqarah/2:10)
3.       Tidak boleh diangkat menjadi pemimpin bagi kaum yang beriman
4.       Hanya akan memperoleh kesenangan sementara
5.       Amalan dan harta hanya dinafkahkan sia-sia
6.       Orang musyrik dinilai sebagai makhluk terburuk
7.       Menjadi musuh Allah
8.       Dijanjikan mendapat siksa neraka

D.  Hikmah Menghindari Perbuatan Syirik
Menurut pendapat Al-Maududi, seseorang yang dapat membebaskan dirinya dari perbuatan syirik, maka imannya akan kokoh dan memiliki pengaruh dalam kehidupan manusia secara nyata, antara lain :
1.       Menjadikan manusia memiliki pandangan yang luas
2.       Mengangkat manusia ke derajat yang paling tinggi dan mulia
3.       Mengalirkan rasa kesederhanaan dan kesahajaan
4.       Membuat manusia menjadi suci dan benar
5.       Memunculkan kepercayaan yang teguh dalam segala hal
6.       Tidak mudah putus asa dengan keadaan yang dihadapi
7.       Menumbuhkan keberanian dalam diri manusia
8.       Mengembangkan sikap cinta damai dan keadilan, menghalau rasa cemburu, dengki dan iri hati
9.      Menjadi taat dan patuh kepada hukum-hukum Allah

Senin, 24 Oktober 2016

Prinsip-prinsip dan Metode Peningkatan Kualitas Akidah/Akidah Akhlak

PRINSIP-PRINSIP DAN METODE PENINGKATAN KUALITAS AKIDAH


A.  Pengertian Aqidah Islam
Dalam kamus al-munawwir secara etimologis aqidah berakar dari kata عَقِيْدَةًيَعْقِدُعَقَدَ berarti simpul, ikatan, perjanjian yang kokoh. Setelah terbentuk menjadi aqidah berarti keyakinan. Relevansi antara arti kata عَقَدٌ dan عَقِيْدَة adalah keyakinan itu tersimpul dengan kokoh dalam hati, bersifat mengikat dan mengandung perjanjian. Sedangkan menurut sumber lain kata aqidah yang kini sudah menjadi bagian dari kosakata bahasa indonesia, berasal dari bahasa arab yang memiliki arti “yang dipercayai hati” kata عَقِيْدَة seakar dengan kata ”اَلْعَقْد” yang bermakna menghubungkan menjadi satu dari semua ujung benda sehingga menyatu dan menjadi kuat yang sulit dibuka ikatan tersebut. Alasan digunakan kata aqidah untuk mengungkapkan makna kepercayaan atau keyakinan adalah karena kepercayaan merupakan pangkal dan sekaligus merupakan tujuan dari segala perbuatan mukallaf. Menurut Hasan al-Banna dalam kitab Majmu’ah ar-Rasa’il.
اَلْعَقَائِدُ هِيَ الْأُمُوْرُالَّتِي يَـجِبُ أَنْ يُصَـدِّقَ بِهَاقَلْبُكَ وَتَطْمَئِـنَّ إِلَيْـهَا نَفْسُكَ وَتَكُوْنَ يَقِيْـنًاعِنْدَكَ لاَيُمَازِجُهُ رَيْبٌ وَلاَيُـخَالِطُهُ شَكٌ
 Artinya : “Aqa’id (bentuk jamak dari aqidah) adalah beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak bercampur sedikit pun dengna keraguan-raguan” (Al-Banna.1963;465)

Menurut Abu Bakar Jabir al-Jazairy dalam aqidah al-mu’min :
اَلْعَقِيْـدَةُ هِيَ مَجْمُوْعَةٌ مِنَ قَضَايَةِالْحَقِّ الْبَدِهِيَّةِ الْمُسْلِمَةِبِالْعَقْلِ والسَّمْعِ وَالْفِطْرَةِ يَعْقِدُ عَلَيْـهَاالْإِ نْسَانُ قَلْبَهُ وَيُشَنِّى عَلَيْـهَاصَدْرَهُ جَازِمًابِصِحَّتِـهَاقَاطِعًابِوُجُوْدِهَا
Artinya : “Aqidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum (aksioma) oleh manusia berdasarkan akal, wahyu, dan fitrah. Kebenaran itu dipatrikan didalam hati serta diyakini kesahihan dan kebenarannya secara pasti”. (al-Jazairy, 1978;21).

Sejalan dengan itu, Mahmud Syaltut (mantan rektor al-azhar mesir) mendefinisikan aqidah islam adalah “suatu sistem kepercayaan dalam islam, yakni sesuatu yang harus diyakini sebelum apa-apa dan sebelum melakukan apa-apa, tanpa ada keraguan sedikitpun dan tanpa ada unsur yang menganggu kebersihan keyakinan” yang disebut dengan “Sesuatu yang harus diyakini sebelum apa-apa” adalah bahwa keyakinan akan keberadaan Allah dengan segala fungsinya untuk kehidupan manusia. Serta kebenaran aturan-aturan yang dibuatnya dan yakin akan adanya para malaikat beserta unsur-unsur lain yang terkumpul dalam rukun iman, harus sudah tertanam saat pertama seorang berikrar menyatakan ke islamannya atau sudah mulai ditanamkan sejak dini yakni sejak dapat mengenal sesuatu dapat membedakan sesuatu dari sesuatu, bagi orang yang menjadi muslim karena kelahirannya. Sedang yang dimaksud dengan “sesuatu yang harus diyakini sebelum melakukan apa-apa” adalah bahwa keyakinan tersebut merupakan dasar pijakan serta tujuan dari segala perbuatannya serta menjadi landasan motivasi dan kekuatan kontrol terhadap semua gerak langkah dalam melakukan perbuatan tersebut.
Maka dapat disimpulkan bahwa aqidah adalah iman atau keyakinan, karena itu Aqidah selalu ditautkan dengan rukun iman yang merupakan asas dari seluruh ajaran islam. Dari pengertian tersebut, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam rangka mendapatkan suatu pemahaman mengenai aqidah yang lebih proposional.
Pertama, setiap manusia memiliki fitrah mengakui kebenaran, indera itu untuk mencari kebenaran, akal untuk menguji kebenaran dan wahyu untuk menjadi pedoman dalam menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Dalam beraqidah hendaknya manusia menempatkan fungsi masing-masing instrumen tersebut pada posisi yang sebenarnya.
Kedua, keyakinan tidak boleh bercampur sedikitpun dengan keraguan, sebelum seseorang sampai ke tingkat yaqin, dia akan mengalami lebih dahulu pertama,شَكُّ  yaitu sama kuat antara membenarkan sesuatu ataupun menolaknya, kedua,ظَنُّ  yaitu salah satu lebih kuat sedikit dari yang lainnya karena adanya dalil yng menguatkan, ketiga, غَلَبَةُ الظَّنِّ yaitu cenderung lebih menguatkan salah satu karena sudah meyakini dalil kebenarannya. Keyakinan yang sudah sampai ketingkat ilmu inilah yang disebut dengan aqidah.
Ketiga, aqidah harus mampu mendatangkan ketentraman jiwa kepada orang yang meyakininya. Dengan demikian hal ini mensyaratkan adanya keselarasan dan kesejajaran antara keyakinan yang bersifat lahiriah serta keyakinan yang bersifat batiniah. Sehingga tidak didapatkan padanya suatu pertentangan antara sikap lahiriah dan batiniah.
Keempat, apabila seorang telah meyakini suatu kebenaran, konsekuensinya ia harus sanggup  membuang jauh segala hal yang bertentangan dengan kebenaran yang diyakininya. Karena seorang tidak akan bisa meyakini sekaligus dua hal yang bertentangan.
Kelima, tingkat keyakinan seseorang tergantung kepada tingkat pemahaman terhadap dalil. Untuk itu keyakinan yang tidak didasarkan pada dalil akan mudah tergoyahkan oleh berbagai tantangan dan problema yang dihadapinya.
Kelima uraian diatas sudah dijelaskan dalam al-quran bahwa manusia yang dilahirkan kedunia ini sudah menyatakan ikatan iman kepada Allah, yaitu pada saat berada di alam azali, yaitu alam yang hanya Tuhan saja yang mengetahuinya. Pernyataan diri meningkatkan keimanan kepada Allah itu selanjutnya dikenal dengan istilah bersyahadat. Hal ini dinyatakan dalam al-quran yang berbunyi :
وَإِذْ أَخَذَرَبُّكَ مِنُ بـَنِىءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّ يَّتـَهُـمْ وَأَشْهَدَ هُمْ عَلَىٰ أَنْــفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّـكُـمْ ۖ قَالُوأبَلَىٰ شَهِدْنَــآ
Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) bukankah aku ini Tuhan mu?”  mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Qs.Al-A’raaf, 7:172).

Ikatan aqidah yang dinyatakan dialam azali itu harus terus dipelihara hingga akhir hayatnya. Itulah sebabnya pada saat manusia lahir ke dunia, dianjurkan agar dikumandangkan azan pada telinga kananya dan diiqomatkan pada telinga kirinya. Azan dan iqomat ini pada intinya mengingatkan manusia pada ikatan aqidahnya. Pernyataan kesaksian tersebut selanjutnya diwujudkan dalam ucapan dua kalimat syahadat yang berbunyi :
اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلَا اللّٰهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَدَارَسُوْلُ اللّٰهِ
Artinya “Aku bersaksi bahwasanya tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah”. Disamping itu, sesuai dengan proses dan konsep kejadian manusia yang secara umum terbagi tiga yaitu pra-dunia, dunia dan pasca dunia, maka ada bagian yang tidak dapat dijangkau oleh pasca indera serta imajinasi manusia. Informasi tentang proses dan kemungkinan keadaan kehidupan diluar dunia tersebut. Hanya mungkin diterima dengan sikap percaya dan keyakinan hati bahwa semua informasi tersebut adalah benar.
Seseorang mukmin harus mempercayai alam ghaib yang tidak kasat mata. Demikian pula dengan masalah aqidah ini terutama yang berkaitan dengan iman kepada malaikat, alam ghaib (surga, neraka dan sebagainya) yang kesemuanya itu harus diyakini tanpa harus dibuktikan melalui rekayasa teknologi.
Dengan demikian pula, objek keyakinan hati atau keimanan tersebut pada umumnya adalah sesuatu yang ghaib, yakni sesuatu yang ada namun keberadaanya tidak dapat dijangkau serta diidentifikasi oleh panca indera dan imajinasi manusia kecuali unsur-unsur yang nampak seperti rasul dan kitab suci yang dibawanya yang penekanan kepercayaan bukan pada aspek ada atau tidaknya tapi pada segi sikap untuk menerima segala fungsi dan peranannya untuk kehidupan manusia.

B.  Prinsip-Prinsip Aqidah
Islam mengajarkan setiap manusia wajib menyembah hanya kepada Allah saja. Dengan demikian islam memiliki prinsip-prinsip dasar yang  harus dijadikan pedoman dalam menjaga aqidahnya agar tetap lurus dan tidak menyimpang dari ajaran islam. Firman Allah swt :
قُلمْ يَـأَهْلَ الْكِتَٰـبِ تَعَالَوْاْ إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَآءِ بَيْنَـنَاوَبَيْنَـكُمْ أَلَّا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكَ بِهِ شَيْـئَاوَلَايَتَّخِذَيَعْضُنَايَعْضًا أَرْبَابًامِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۚ فَـإِن تَوَلَّوْاْفَقُوااُشْهَدُوأبِـأَ نَّـامُسْلِمُوْنَ ۝
Artinya : Katakanlah (Muhammad)”Wahai Ahli Kitab! Marilah (Kita) menuju kepada satu kalimat (Pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidah menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain Tuhan-Tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka) “Saksikanlah bahwa kami adalah orang muslim”. (Ali Imran/3 : 64)

Dari ayat ini dapat dijabarkan lebih luas sebagai berikut :
1)       Bersumber pada Al-Quran dan Al-Hadist (Qs. Al-Najm : 3-4)
2)   Sama dengan aqidah yang diajarkan oleh para Nabi dan Rasul Allah terdahulu (Qs. Al- Anbiya;25)
3)       Meluruskan aqidah yang telah menyimpang (Qs. Al-Baqarah;102)
4)    Menjaga dan memupuk fitrah ketuhanan yang telah ada sejak manusia ditiupkan ruh dalam kandungan (Qs. Al-A’rof;172)
5)      Menjauhkan manusia dari segala bentuk kemusyrikan (Qs.Al-Nisa;48)

Menurut pendapat Syekh Ali Thanthawi “Fitrah dan akal manusia berperan penting dalam masalah aqidah yang yakini seorang”. Pendapat ini dijabarkan dalam kitab; “Ta’rif Am bin Dinil islam, fasal Qowaa’idul ‘Aqaid” maksud dari pendapat tersebut penulis ringkas berikut ini;
Pertama, apa yang saya dapat dengan indera saya, saya yakini adanya, kecuali bila akal saya mengatakan “tidak” berdasarkan pengalaman masa lalu. Misalnya bila saya pertama kali melihat sepotong kayu didalam gelas berisi air putih terlihat bengkok tentu saya akan membenarkannya. Tetapi jika terbukti kemudian hasil penglihatab indera saya itu salah, makka untuk kedua kalinya bila saya melihat yang sama, akal saya akan langsung mengatakan tidak demikian hal yang sebenarnya.
Kedua, keyakinan. Disamping diperoleh dengan menyaksikan langsung, juga bisa melalui berita yang diyakini kejujuran sipembawa berita. Banyak hal yang memang tidak atau belum kita saksikan sendiri tetapi kita meyakini adanya. Misalkan tentang fakta sejarah Daulah Abbasiyah atau Umayyah. Anda meyakini kenyataan sejarah itu berdasarkan berita yang anda terima dari sumber yang dipercaya. Bahkan jika seseorang memperhatikan apa yang diyakini adanya, ternyata yang belum disaksikannya lebih banyak dari yang sudah disaksikan.
Ketiga, anda tidak berhak memungkiri wujudnya sesuatu, hanya karena anda tidak bisa menjangkaunya dengan indera mata. Kemampuan alat indera memang sangat terbatas. Oleh karena itu kita tidak dapat memungkiri wujudnya sesuatu hanya karena inderanya tidak bisa menyaksikan.
Keempat, seseorang hanya bisa mengkhayalkan sesuatu yang sudah pernah dijangkau oleh inderanya. Khayalan manusiapun terbatas pada apa yang mampu dijangkau inderanya. Manusia tidak akan bisa mengkhayalkan sesuatu yang baru sama sekali. Karena khayalan akan selalu terkait dengan hukum-hukun tertentu (sunatullah) yang telah ditetapkan. Misalnya anda tidak akan bisa mengkhayalkan suara yang nadanya harum, karena keduanya memiliki hukum yang berbeda.
Kelima, akal hanya bisa menjangkau hal-hal yang terkait dengan ruang dan waktu. Akal tidak akan dapat menjangkau sesuatu yang tidak terikat ruang dan waktu. Bisakah akal menjelaskan kapan terjadi suatu peristiwa, jika peristiwa itu tidak terjadi dulu sekarang dan tidak juga pada masa akan datang.
Keenam, iman sebagai fitrah setiap manusia yang terlahir dialam dunia setiap manusia yang hidup didunia memiliki fitrah mengimani adanya pencipta dan pengatur kehidupan (al-kholiq al-mudabbir). Tetapi fitrah itu hanya merupakan potensi dasar milik manusia yang harus dikembangkan dan dipelihara, karena fitrah bisa tertutup oleh bermacam hal yang menjadi daya tarik dalam kehidupan manusia.
Ketujuh, kepuasan tentang hari akhir merupakan konsekuensi logis dari keyakninan tentang adanya Allah. Beriman kepada Allah menuntut adanya sikap penerimaan terhadap sifat-sifat yang dimiliki Allah menurut adanya sikap penerimaan terhadap sifat-sifat yang dimiliki Allah, termasuk sifat “Adil” jika tdak ada kehidupan lain diakhirat bisakah keadilan Allah itu terlaksana. Oleh karena itu iman pada Allah memberikan konsekuensi keimanan adanya alam akhirat setelah berakhirnya kehidupan dialam dunia, sebagai pertanggung jawaban kehidupan manusia dan membuktikan kebenaran janji serta kekuasaan Allah sebagai “al-malik al-yaumuddin”.

C.  Ruang Lingkup Aqidah Islam
Menurut sistematika Hasan Al-Banna maka ruang lingkup pembahasan aqidah islamiyah adalah :
1)  Ilahiyah yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan illah (Tuhan,Allah) seperti wujud Allah, nama-nama dan sifat Allah, perbuatan-perbuatan (af’al) Allah dan lain-lain.
2)   Nubuwat yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Nabi dan Rasul termasuk pembicaraan mengenai kitab-kitab Allah, mu’jizat dan sebagainya.
3)     Ruhaniyat yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang  berhubungan dengan alam metafisik seperti malaikat, jin, iblis, setan, roh dan lain sebagainya.
4)   Sam’iyyat yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang hanya bisa diketahui lewat sam’i, yakni dalil naqli berupa al-quran dan as-sunnah seperti alam barzah, akhirat, azab kubur, tanda-tanda kiamat, surga, neraka dan seterusnya.

Disamping sistematika diatas, pembahasan aqidah bisa juga mengikuti sistematika Arkanul Iman yaitu :
1)     Kepercayaan akan adanya Allah dan segala sifat-sifat-Nya, yaitu sifat wajib, mustahil dan sifat jaiz serta wujud-Nya yang dapat dibuktikan dengan keturunan dan keindahan alam semesta ini.
2)   Kepercayaan tentang alam ghaib yaitu kepercayaan akan adanya alama yang ada dibalik alam nyata ini, yang tidak bisa diamati oleh alat indera. Demikian pula makhluk-makhluk yang ada didalamnya seperti malaikat, jin, iblis, setan dan ruh.
3) Kepercayaan kepada kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada para rasul. Kitab-kitab itu diturunkan Allah kepada para rasul agar dijadikan pedoman hidup masyarakat sesuai dengan zamannya. Dengan berpedoman pada kitab-kitab Allah, manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, yang hak dan yang bathil, serta yang halal dan yang haram.
4)   Kepercayaan kepada para nabi dan rasul yang telah dipilih oleh Allah untuk memberi petunjuk dan bimbingan kepada manusia agar melakukan hal-hal yang baik dan hak
5)  Kepercayaan kepada hari akhir serta peristiwa-peristiwa yang telah terjadi pada saat itu, seperti ba’ats (bangkit dari kubur), mizan (timbangan amal baik dan amal buruk), pahala, surga dan neraka.
6)  Kepercayaan kepada takdir (qadha dan qadar) Allah. Dengan takdir Allah itulah terciptanya alam dan segala isinya.

D.  Metode Peningkatan Aqidah
Manusia dalam kehidupan ini tidak terlepas dari berbagai macam masalah. Jalan yang ditempuh kadang-kadang datar, kadang-kadang menurun, manusia akan bertemu dengan nikmat dan bencana, bahagia dan sengsara dan lain sebagainya. Dalam mengarungi gelombang kehidupan yang demikian, manusia harus mempunyai landasan tempat berpijak, mempunyai tali untuk berpegang. Landasan tempat berpijak itu ialah iman dan iman tersebut juga memerlukan kondisi yang baik agar tetap lurus dan tidak menyimpang bahkan harus mempunyai grafik yang meningkat. Dengan demikian diperlukan kiat-kiat untuk menjaga aqidah tersebut. Dan berikut adalah metode-metode untuk meningkatkan awidah agar tetep kokoh dan tak tergoyahkan.
1)        Memperbanyak membaca al-quran (Qs.Al-Isra;82)
2)        Mendalami ilmu agama dan ilmu lain yang mendukungnya (Qs.Fatir;28)
3)        Banyak melakukan amal shaleh yang sesuai dengan syariah islam (Qs.Al-Hadid;21)
4)        Memperbanyak dzikir baik dzikir qouli maupun amali (Qs.Al-Ro’du;28)
5)        Menghayati keagungan dan kekuasaan Allah melalui ayat-ayat baik qouliyah maupu kauniyah (Qs.Al-Zumar;67)
6)        Memperbanyak ibadah baik mahdhah maupun gharu mahdhah

Disamping kiat-kiat diatas peningkatan aqidah dapat diperoleh dengan menanamkan kalimat tauhid Laa Ilaaha illa Allah (Tiada Tuhan selain Allah), tiada yang dapat menolong, memberi nikmat kecuali Allah dan kebahagiaan di segenap lapangan hanya diperoleh dengan jalan berakhlak mulia.
Didalam Al-Quran disebutkan bahwa iman itu tergambar dari amal atau tergambar dari sifat dan tingkah laku seseorang. Dan kadang-kadang Allah menyebutkan amal pada urutan pertama dan iman urutan kedua, karena itu dapat dikatakan, amal merupakan syarat kebenaran iman seseorang, dan seperti telah disebutkan diatas iman menjadi syarat syahnya amal seseorang. Firman Allah Swt :
وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّٰلِحَٰتِ وَهُوَمُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًاوَلَاهَضْمًا۝
Artinya : “Dan barangsiapa mengerjakan kebajikan sedang dia (dalam keadaan) beriman maka dia tidak khawatir akan perlakuan zalim (terhadapnya) dan tidak (pula khawatir) akan pengurangan haknya”. (Qs.Taha/20:112)

E.  Kualitas Aqidah dalam Kehidupan
Sebagai seorang mukmin harus menyadari bahwa keimanan yang ada pada dirinya memiliki pengaruh langsung dalam totalitas kehidupan yang dijalani. Menurut Abu ‘Ala Maududi, “Iman yang benar memiliki pengaruh yang amat menentukan terhadap kesuksesan hidup manusia dalam menjalani kehidupannya didunia ataupun akhirat”.
a)    Manusia yang beriman tidak mungkin berpandangan sempit dan berakal pendek. Ia percaya kepada Allah Swt sebagai penguasa dan pemelihara alam semesta. Dia tidak akan pernah merasa asing dengan apapun yang ada didunia. Pandangannya menjadi luas, wawasan intelektualnya menjadi lebih terbuka,, pendiriannya bebas seperti layaknya kekuasaan Allah.
b)   Keimanan yang benar dapat mengangkat manusia menuju derajat yang paling tinggi dalam harkatnya sebagai manusia.
c)     Keimanan yang benar akan dapat mengalirkan kedalam diri manusia, rasa kesederhanaan dan kebersahajaan.
d)  Keimanan membuat manusia menjadi suci dan benar. Ia yakin tidak ada jalan lain untuk mencapai kesuksesan dan keselamatan kecuali denggan kesucian jiwa dan tingkah laku yang baik
e)   Keimanan dapat membuat hati orang-orang beriman menjadi tenang, terisi dengan kepuasan dan optimis untuk menghadapi masa depan
f)     Orang yang beriman tidak akan putus asa atau patah hati dengan keadaan yang dihadapi
g)   Keimanan membuat keberanian dalam diri manusia. Tidak takut mati dan menyatakan bahwa tidak ada orang lain selain Allah yang dapat mencabut nyawanya.
h)    Keimanan dapat mengembangkan sikap cinta damai dan adil, menghalau rasa cemburu, dengki dan iri hati
i)  Pengaruh yang terpenting dari keimanan adalah membuat manusia menjadi taat dan patuh kepada hukum-hukum Allah.
j)  Keimanan memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan manusia sehari-hari. Karena itu keimanan menjadi aspek yang pertama dan terpenting untuk menjadi seseorang muslim sejati. Muslim berarti kepatuhan dan ketaatan kepada Allah, kepatuhan kepada Allah tidak mungkin tumbuh dalam diri seseorang jika ia tidak mempunyai keyakinan dan keimanan terhadap kalimat Tauhid tersebut. Atau dengan kata lain tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah.